Belajar Pada Burung

Sebelum keyakinan ini terkikis habis oleh benturan keadaan yang semakin menipiskan pundi-pundi udara, alangkah lebih baiknya ku perhatikan burung-burung di pojok jendela itu. Mungkin saja dengan memperhatikannya akan dapat mengurangi beban yang menghimpit hati ini.
Tawakkal
Tawakkal
Ku perhatikan burung-burung itu tak henti-hentiya berkicau, seakan tak menghiraukan panas yang menyengat di siang ini , mereka tak merasa kuatir akan lapar yang mengintip, padahal dalam sarang-sarang mereka tak dijumpai barang sesuap makanan untuk dirinya beserta dua anaknya. Apalagi untuk esok hari dan hari-hari selanjutnya. Ah… betapa damai burung itu,, jendela yang mereka naungi juga tidak dikatakan aman dari goncangan angin, bisa saja dengan dua atau tiga hentakan keras ia akan terjepit. Mereka tetap berkicau menyenandungkan puja puji pada sang pencipta, tak henti-hentinya menebarkan kedamaian bagi makhluk lain dan turut serta menciptakan aroma ketentraman di sekelilingnya.
Bukankah mereka hanya dibekali dengan paruh dan sayap untuk menopang kebutuhan perutnya? Tidakkah kita pernah dengar keluh kesah mereka? Tak pernah mereka bermuram durja dan menyalahkan sang pencipta atas keadaannya. Mereka tetap berkicau walau perut kosong dan tidak tau apakah dapat mengisinya atau tidak, juga tak ada sumpah serapah yang keluar dari paruhnya bila seharian tak dapat mengisi perut yang kosong itu. Ataukah kita tak dapat menangkap keluh kesah mereka karena tak memahami bahasanya? Rasa-rasanya tidak… buktinya raut wajah mereka tetap berseri-seri
Apakah mungkin mereka sudah tau bahwa urusan perut merupakan masalah yang sudah ditanggung (madhmun) oleh sang pembuat perut? Untuk masalah itu, aku juga sudah tau, bahkan boleh dibilang lebih tau dibanding orang-orang kebanyakan disekelilingku. Aku masih ingat dengan perkataan Al Ghozali dalam Kifayatul Atqiya: “Manusia tidak perlu risau dan hawatir akan masalah pengganjal perut, karena hal itu sudah ditanggung oleh sang pencipta manusia itu sendiri. Lebih tepatnya rizki itu dibagi menjadi dua, ada yang madhmun (dijamin oleh Tuhan akan diberikan pada makhluk) dan ada yang ghoir madhmun, dan termasuk dalam bagian rizki madhmun adalah urusan perut setiap makhluknya”. Kalau kau tak percaya bahwa masalah perut itu sesutau yang telah dijamin oleh sang pencipta, coba kau lihat burung-burung itu, katanya. Burung itu tidak punya skill, tidak punya tangan sebagaimana kalian punya, tidak punya otak sebagaimana kalian dianugerahi, tidak punya tenaga besar seperti tenaga yang kalian miliki, akan tetapi mereka dapat bertahan hidup dan menemukan rezeki entah dari mana jalannya.
Lantas, apa yang membuat keyakinanmu lambat laun menipis? Bukankah sudah kau nyatakan tadi, bahwa masalah itu bukan persoalan yang patut dihawatirkan…. dimana keraguan itu bersarang dalam hatimu… tanyaku pada diriku sendiri. Ya.. sebenarnya, untuk masalah yang tadi tidak ada persoalan. Hanya saja, manusia tidak dapat disamakan dengan burung dalam segala hal, burung butuh makan kita butuh makan, burung butuh minum, kita juga butuh minum, kita butuh pendidikan, burung tidak perlu, kita bepergian dengan mengeluarkan biaya, burung cukup mengepakkan sayap, kita berteduh dengan adanya jaminan uang kontrakan, burung cukup mengumpulkan rerumputan, untuk dapat bertahan manusia membutuhkan skill dan sedikit bagian keberuntungan, burung mencukupkan diri dengan bagian keberuntungan saja, kehidupannya seakan sudah dijamin seratus persen oleh sang pencipta, sedangkan untuk memenuhi kebutuhannya, manusia memerlukan daya upaya sebagai simbolisasi rasa terima kasih atas anugrah akal yang tidak diberikan kepada selainnya. 

Source : http://sosbud.kompasiana.com

0 Response to "Belajar Pada Burung"

Posting Komentar